Saturday

Menyibak Kinerja Kepanitiaan HUT RI

Bulan Agustus telah lewat, namun kenangan tentang bulan tersebut selalu lekat. Di berbagai daerah hingga pelosok desa telah diadakan berbagai kegiatan untuk menyemarakkan bulan yang sangat spesial bagi bangsa Indonesia tersebut. Dalam catatan sejarah, Bulan Agustus adalah bulan dimana Bangsa Indonesia bisa bebas memproklamasikan Kemerdekaannya. 



Untuk menyambut bulan Kemerdekaan Indonesia tersebut, warga masyarakat memperingatinya dengan berbagai macam cara. Mulai dari seremoni-seremoni seperti Malam tasyakuran , upacara bendera, Karnaval Agustusan hingga kegiatan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan. 

Selain seremoni-seremoni tersebut, yang khas pada peringatan HUT RI adalah adanya berbagai macam lomba dan juga malam perayaan/resepsi HUT RI. Khusus Malam perayaan/resepsi HUT RI di pelosok daerah hingga desa-desa biasanya diisi dengan sambutan-sambutan, pembagian hadiah dan juga hiburan pentas seni atau musik. 

Kegiatan-kegiatan di Bulan Agustus dalam rangka memperingati HUT RI selalu melibatkan banyak warga masyarakat. Sukses tidaknya tiap kegiatan tersebut bergantung pada antusiasme warga masyarakat dan juga kelihaian panitia dalam mengatur acara. Tentu akan sangat garing dan tidak meriah jika kegiatan yang telah disusun sedemikian rupa tidak ada yang mengikutinya, atau dengan kata lain tidak ada warga masyarakat yang menghadirinya. Ini akan menjadi pukulan telak buat panitia penyelenggaranya. 

Hal yang patut disyukuri, di berbagai tempat kegiatan Agustusan banyak yang menuai kesuksesan. Acaranya lancar tanpa kendala dan banyak warga masyarakat yang mengikutinya. Jika sudah demikian panitia pelaksana tentu menuai banyak pujian. Mereka ini tentunya sangat bangga dan merasa jumawah. Namun tiada yang mengetahui bahwa perjuangan untuk mewujudkan kemeriahan dan kesuksesan kegiatan Agustusan tidak pernah mudah. Selalu ada hambatan, rintangan dan konflik disana sini. 



Tak dapat dipungkiri bahwa setiap perhelatan yang melibatkan orang banyak selalu ada orang-orang yang merasa sakit hati atau merasa didzalimi sehingga menimbulkan gunjingan disana sini. Biasanya yang menjadi sasaran adalah para panitianya. Begitu juga dalam kegiatan Agustusan, pastinya ada gejolak yang mewarnai. Meskipun gejolaknya tidak besar, namun tetap saja ada omongan yang tidak enak didengar dan bikin nama panitia ternoda. Bahkan terkadang menimbulkan dendam dan kebencian yang mendalam. 

Biasanya kegiatan yang menimbulkan gunjingan, gejolak dan salah faham adalah kegiatan lomba Agustusan. Untuk lomba adu cepat atau sejenisnya memang minim gejolak karena pemenangnya dapat terlihat jelas. Namun saat lomba yang kriteria penilaiannya berdasarkan subjektifitas juri, kemungkinan konflik dan gejolak sangat terbuka lebar. Disinilah peran panitia yang kredibel dan mumpuni mutlak diperlukan. 

Lomba Tumpeng, Lomba Masak, lomba Joget, Lomba Nyanyi dan sebagainya adalah contoh lomba yang membutuhkan skill khusus dalam penjurian. Tidak boleh sembarang orang diangkat menjadi juri. Kompetisi olahraga seperti Voli, Sepak Bola dan sejenisnya juga perlu wasit yang kompeten dalam bidangnya. Tidak bisa asal comot saja karena pasti menimbulkan dilema dan gejolak saat pelaksanaan. Jika sudah demikian, bukan kedamaian dan persatuan yang didapat saat perayaan Agustusan, namun malah bibit sengketa dan konflik yang muncul. 

Rangkaian kegiatan Agustusan lainnya yang sering bermasalah adalah acara malam perayaan HUT RI atau malam resepsi. Perhelatan tersebut selain membutuhkan biaya yang tidak sedikit, juga perlu perencanaan yang matang. Jika acara tidak ditata dengan pemikiran dan pertimbangan yang mendalam akan banyak permasalahan dan kekacauan yang mengiringi. 



Susunan kepanitiaan dalam kegiatan Agustusan memang boleh diisi oleh siapa saja. Baik Tukang becak, tukang kayu, Penjual Air, pedagang, Petani, Guru maupun pejabat. Namun dalam pemilihan maupun penunjukan panitia ini harus disesuaikan dengan SDM yang dimiliki. Bagaimanapun juga kegiatan Agustusan ini pasti melibatkan orang banyak yang berbeda karakter dan pemikiran, sehingga diperlukan SDM yang mumpuni untuk mengatur segala sesuatunya. 

Sumber Daya Manusia merupakan salah satu faktor kunci dalam semua lini keberhasilan. Panitia Kegiatan Agustusan yang memiliki SDM rendah rawan membuat kekacauan. Mereka ini tidak layak untuk menjadi pengatur dan berdiri di depan. Meskipun dia pejabat atau orang terhormat, tapi kalau SDM rendah tidak selayaknya menduduki posisi penting dalam kepanitiaan. Sumber gunjingan dan rasa ketidakpuasan masyarakat biasanya bersumber dari mereka yang berSDM rendah ini. 

Indonesia lahir bukan melalui sejarah yang pendek dan biasa saja, akan tetapi Republik Indonesia lahir karena buah pemikiran dan perjuangan para pahlawan. Sudah selayaknya peringatan hari kemerdekaan dilaksanakan dengan sebaik baiknya, tanpa menimbulkan gejolak dan konflik. Sangat disayangkan jika perhelatan yang sakral tersebut, ternodai oleh panitia yang berSDM rendah. 

Mereka yang berSDM rendah ini harusnya sadar diri dan tidak bersikap sok-sok An agar pelaksanaan perayaan bisa berjalan lancar. Perayaan Hari Kemerdekaan yang diadakan setiap bulan Agustus tentunya harus bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu panitia penyelenggara harus terus intropeksi dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan tahun ini agar bisa lebih baik di tahun mendatang. 

Permasalahan yang sebelumnya terjadi bisa dijadikan acuan sekaligus pembelajaran, supaya tidak berulang dan terjadi lagi.